Latest Tweets:

herricahyadi:

herricahyadi:

Dalam semua pilihan—jodoh, parpol, jurusan, pekerjaan, dsb—berlaku tiga hal di atas. Sebab kita senantiasa diajari kebaikan, bahkan semenjak hendak menentukan pilihan.
Terima kasih ya Allah atas anugerah dien yang sempurna ini. Alhamdulillah..

Reblog untuk edisi mencari pemimpin. 

herricahyadi:

herricahyadi:

Dalam semua pilihan—jodoh, parpol, jurusan, pekerjaan, dsb—berlaku tiga hal di atas. Sebab kita senantiasa diajari kebaikan, bahkan semenjak hendak menentukan pilihan.

Terima kasih ya Allah atas anugerah dien yang sempurna ini. Alhamdulillah..

Reblog untuk edisi mencari pemimpin. 

*3

"If Allah can take away the person you’ve never expected losing. Allah can replace them with person you’ve never imagined having."

❤️

Akan selalu ada laki-laki yang baik untuk wanita yang terus berusaha menperbaiki dirinya. Dan akan selalu ada wanita yang baik-baik untuk lelaki yang selalu berusaha memperbaiki dirinya 😊😇

Akan selalu ada laki-laki yang baik untuk wanita yang terus berusaha menperbaiki dirinya. Dan akan selalu ada wanita yang baik-baik untuk lelaki yang selalu berusaha memperbaiki dirinya 😊😇

Terima Kasih, Palestina!

herricahyadi:

Orang-orang Palestina ketika ditanya mengapa mereka tidak pergi saja dari sana dan mengungsi ke negara tetangga—karena cobaan Yahudi terhadap mereka begitu besar, mereka menjawab begini:

"Jika kami keluar dari tanah ini (Palestina), maka siapa lagi yang akan menjaga masjid suci al-Aqsha? Siapa…

Terimakasih Palestina! :’)

Tangisan Terakhir…

Dulu aku punya sebuah impian, yang kususun saat aku masih bersamamu. Namun mimpi itu hancur berantakan, karena kita berpisah. Mimpi itu pun berpencar, kocar-kacir dan berantakan.

Waktu trus berlalu, dan mimpiku kembali menyatu, meski tak ada lagi dirimu di dalamnya. Ku bangun kembali, kususun kembali, kutata kembali di barisan rak kehidupanku. Aku harus bangkit, meski tanpa dirimu. Dan sebelum semua itu, aku harus mengakui sesuatu. Bahwa melihatmu di sana, dimiliki orang lain, menggenggam tangan orang lain, memeluk orang lain, masih menyisakan kepedihan di hatiku. Aku masih belum sanggup menatap lama dirimu yang seperti itu. Namun jangan khawatir, karena aku tidak berniat untuk merengek kepadamu. Cukup kusimpan saja pedih ini sendiri. Hanya doa restu, dan harapan semoga kebahagian selalu menyertai kehidupanmu.

Kisah kita, rasa ini, cukup aku yang tahu. Kau kini sudah bahagia. Mau tak mau aku harus merelakanmu. Melepasmu, membutuhkan satu tangisan terakhir, agar hatiku lega dan siap 100% melepasmu.

Kutabahkan hatiku, namun pilu itu terlanjur mewarnai hatiku. Pilu yang tak mampu kutanggung lagi untuk melepaskan tangisan yang terakhir kalinya.

Jangan tertawakan aku, biarkan aku menangisimu, karena aku tak bisa mendustai hatiku, bahwa hatiku masih menyimpan cinta untukmu. Biarkan aku terpuruk sekejab, dalam tangisan yang gelap, menangisimu yang kini bukan milikku lagi.

Di sini lah aku, menangis dalam sepi. Sedangkan kau di sana, berbahagia. Kita memang berpisah secara baik, tapi bukan berarti hatiku baik-baik saja. Mungkin tidak adil rasanya, kita dulu pernah memiliki cinta yang sama. Namun sekarang, hangatnya mentari cinta menyinari kehidupanmu, namun memanasi hatiku, karena aku masih berharap turunnya hujan kasih sayang yang tak kunjung datang.

Di sini lah aku, masih duduk seorang diri, di tempat biasanya kita berdua. Melamun tentang kisah lalu kita, menghela nafas berat karena berharap cinta ini bisa kubabat.

Aku HARUS mulai merelakanmu. Toh, tak ada lagi yang bisa kulakukan untuk kembali memilikimu. Setidaknya, sebelum semua itu, biarkan aku menangisimu, sekali ini saja, tangis untuk yang terakhir kalinya. Satu tangisan terakhir, sebelum kulepaskan segala masa lalu kita.

Harus kutata kembali hati dan pikiranku, untuk yang terakhir kalinya. Tak boleh lagi ada harapan kosong dalam hati ini untuk sekedar bisa memilikimu kembali.

Aku tahu melakukan semua ini sungguh membutuhkan kekuatan hati yang besar. Memangnya kenapa? Kalau tidak sekarang, aku mungkin tak kan mampu mengendalikan hati ini kembali, dan terjebak dalam mencintaimu lagi.

Padahal, dunia di sekitarku terus berlanjut, berjalan tak pernah mundur. Apakah aku harus terus dalam posisi yang tak berubah? Tidak, hidupku juga harus berlanjut, dengan atau tanpa dirimu.

Sebelum kurelakan semuanya, biarkan aku menangisimu sekali lagi saja, agar segala kenangan tentang kita ikut luruh bersama air mata.
Setelah itu, akan kutata kembali hidupku, pikiranku, dan hatiku, tanpa memasukkan dirimu di dalamnya. Sudah cukup berpura-pura bahwa kaupun masih menyimpan cinta. Itu adalah dusta, yang kurawat sendiri, jadi harus kuakhiri sendiri.

Sepertinya, tangisku yang terakhir kali ini, membuatku terpuruk. Tak pernah aku merasa sekehilangan ini. Tak pernah hatiku merasa sesepi ini. Aku tersedu, menangisimu, melepas keberadaanmu dari hatiku, bersiap menerima kekosongan yang akan kurasa setelah itu.

My new sounds:

Sudah semestinya..

Jadi, aku sudah siap berdiri lagi disini. Aku sudah siap jatuh cinta kembali. Untuk berbahagia lagi. Sudah juga menghapusmu dari hatiku. Memang tidak menghapus kenangannya, hanya membersihkan ruangannya untuk nantinya bisa ditempati orang yang lebih baik lagi. Yang lebih tepat untukku menurut Allah Swt, bukan yang tepat untuk diriku sendiri. Allah sudah mengatur semuanya dan Allah juga sudah menyiapkan semuanya dengan sempurna. Tak ada penyesalan dalam hati, aku bersyukur karna Allah sudah mentakdirkan seperti ini.

Jadi, sebenarnya, kehilanganmu tidak apa. Aku akan sakit sementara. Tetapi, selama aku tidak pernah kehilangan hati dan pikiranku sendiri; aku rasa aku akan baik-baik saja, inshaa Allah. Karena sebelum ada kamu pun aku pernah bahagia, jadi kebahagianku sudah pasti bukan tergantung padamu.

Satu satunya Lelaki

Lelaki terdingin tapi memiliki pelukan terhangat. Lelaki tercuek tapi memiliki cinta yang tak berbatas. Lelaki tertenang yang pernah ada, badan tegap tegas dengan sentuhan wajah teduh saat berbicara denganku. Lelaki yang jarang menanyakan kabar tapi selalu memperhatikan dari kejauhan. Lelaki yang akan selalu memaafkan meskipun aku menyakitinya berjuta juta kali. Lelaki yang rela bersusah payah demi keluarganya, tak ragu juga untuk menguras tenaga pikiran dan hatinya untukku. Lelaki misterius yang selalu muncul disaat genting, saat hatiku memang butuh seseorang. Lelaki yang selalu tau apa yang aku butuhkan. 
Sandaranku, tempat kembali saat dunia dan orang orang didalamnya berubah menjadi jahat. Tempat kembali hanya sekedar untuk menangis dan mengeluh. Lelaki yang aku harap mempunyai kembarannya didunia ini. Lelaki yang tidak akan pernah menyakiti hatiku sekalipun.

Aku harap ada dua orang seperti abah di dunia ini. Aamiin 👨👧

I’m a big fans of my father…

19 Mei 2013. Akhir Cerita Cinta..

19 Mei 2014, tepat satu tahun yang lalu kamu memutuskan hubungan kita, Tuan. Tepat satu tahun juga kamu menutup buku tentang kisah kita. Kisah yang menghadirkan banyak cerita tentang kita berdua, kisah yang begitu Indah untuk dilupakan.

Satu tahun belakangan ini aku berusaha dan terus berusaha untuk bisa melupakan sosokmu, sosok yang selalu aku banggakan dan sayangi selama ini. Kita dulu satu, tapi sekarang kamu dan aku berjalan sendiri-sendiri tanpa ikatan yang mengganggu.

Aku belajar ikhlas dari apa yang aku jalani selama satu tahun belakangan ini. Satu tahun bukan waktu yang singkat, tertatih aku mencoba untuk mengikhlaskan semuanya. Tuhan lah yang selama ini menjadi sandaran aku ketika aku lemah dan tak berdaya. Hanya kepada Tuhan juga aku menyerahkan semua masalahku.

Mulai sekarang, 19 Mei 2014 aku akan mencoba menutup buku tentang kamu dan kita, mencoba lembaran yang baru lagi untuk melanjutkan hidupku yang lebih baik lagi dan menjadi sosok yang lebih bermanfaat lagi untuk orang disekitarku, Tuan.

Aku akan selalu menyimpan kenangan kita didasar lubuk hati paling dalam, aku akan terus berusaha sebisa mungkin untuk melupakan setiap detail yang pernah kau berikan padaku, aku akan terus berjalan dan akan selalu tersenyum. Aku berjanji, Tuan.

Bolehkah aku bernyanyi satu buah lagu untukmu, Tuan.
Lagu ini menggambarkan perjuanganku selama ini, semoga kau tak bosan untk mendengarkannya.
“Aku takkan bertahan bila tak teryakinkan, sesungguhnya cintaku memang hanya untukmu. Sungguku tak menahan bila jalan suratan menuliskan dirimu memang bukan untukku, selamanya…”

Terus bersemangat untuk studinya. Tetap teruskan cita-cita kamu yang selama ini ingin kau capai. Tetap berjuang untuk lebih baik lagi, aku akan terus mendoakan yang terbaik untuk mu, tiada henti doaku untuk kebahagiaanmu, Tuan.
Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karna kau telah hadir didalam hidupku dan mengajarkan banyak hal positif.

Tiba-tiba aku (masih) merindukanmu.

18 Mei 2014

18 Mei dan Kita
Tentangmu: 18 Mei 2011

Halo, Tuan. Kita bertemu lagi di 18 Mei. Tanggal yang cukup penting bagiku, namun belum tentu penting bagimu. Ini sudah menjadi tradisi, sejak tiga tahun yang lalu. Tradisi semacam apa? Ya, sebagai pengingat bahwa dulu kita pernah berkenalan dan sempat pacaran.

Dulu, dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, kedekatan kita adalah hal yang tak ingin aku sia-siakan. Bisakah manusia kecil seperti aku melawan kehendak Tuhan? Aku tidak sekuat itu. Perpisahan kita, yang terjadi tanpa dugaanku sebelumnya, tiba-tiba saja hadir. Kita, yang dulu adalah kutub selatan juga utara, yang saling tarik-menarik dan berdekatan, tak lagi punya alasan untuk berjalan sama-sama.

Bolehkah aku bercerita tentang awal pertemuan kita? Mungkin, jika kamu menyempatkan diri untuk membaca, kamu akan bosan mendengar ceritaku.
Perkenalan kita diawali dengan tugas besar dari guru pemprograman, cukup terbantu aku dengan penjelasan singkatmu lewat BBM tentang membuat program yg unik.
Penjelasan-penjelasan pelajaran yang berlanjut itu mengantarkan kita pada satu titik, titik ternyaman saat kita saling berkenalan. Aku baru mengetahuimu. Kamu juga baru mengetahuiku. Awalnya kita tak pernah saling kenal satu sama lain meskipun kita satu sekolah yang sama.

Aku tahu kamu tidak nakal. Kamu gigih dan selalu berjuang untuk yang ingin kauperjuangkan, tapi entah mengapa kau tidak memperjuangkan hubungan kita? Hubungan yang kita bina selama dua tahun? Apa hubungan kita tak layak untuk diperjuangkan? Sudahlah, lupakan! Semua sudah lewat dan pertemuan kita harusnya bukan menjadi hal yang harus kusesali. Aku masih mengingat tentangmu.

Waktu kita berkenalan, kita masih SMK. Kamu masih bersama kekasihmu yang dulu (enggak tahu udah putus apa gak dan katanya aku jadi orang ketiga diantara kalian). Pria yang nembak aku dengan pura-pura pinjem hape trus nulis ”Would you be mine?” dipencarian lagu dan dengan polosnya nanya ke aku punya lagu itu atau gak. Pria yang tak suka ketika aku ngucapin happy annive tiap bulannya pada tanggal 18 dan kamu berkata “hubungan kita gak usah dihitung, biar kita jalani saja”. Pria yang slalu marah ketika aku bertemu dengan mu pasang muka cemberut. Kamu… pria yang sangat sayang sama keluarga, terutama mamah kamu. Pecinta Juventus, penyuka PS, penggemar Taylor Swift, Kinna Grannis dan sekarang Lorde. Pria yang tak pernah mengeluh sakit. Pemain futsal kelas yang katanya pernah nyetakin gol buat aku meskipun cuma satu angka. Kocak. Humoris. Supel. Dan, apakah yang tidak kuketahui mengenai kamu? Masih banyak hal yang aku ketahui mengenai kamu.

Tuan, aku sungguh tak percaya, hubungan kita yang berjalan singkat ternyata masih begitu melekat dalam ingatanku. Aku juga tak paham, mengapa sosokmu yang sempat begitu akrab di otakku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi kukenal. Memang tidak ada kata pisah. Tidak juga ada lagi ajakan untuk menyatukan aku dan kamu menjadi kita. Tapi, segalanya yang telah kulakukan bersamamu membawa kejutan dan kenangan tersendiri bagiku, entah bagimu.

Tuan, sudah tiga tahun, 18 Mei 2011 memang sudah terlewat. Aku juga sudah berubah, kamu juga sudah pasti berubah. Kenangan kita, hari-hari kita, segala yang terjadi di antara kita pasti sudah berubah. Kamu mungkin sudah melupakanku, melupakan setiap detail diriku yang pernah kuperlihatkan padamu. Segalanya pasti sudah berubah, Tuan. Tapi, kenangan tetap sama, meskipun orang-orang yang mengingatnya tak lagi sama.

Dulu, kita masih satu SMK. Sekarang aku dan kamu sudah merasakan bangku kuliah, kamu di Banjarmasin sedangkan aku di Malang. Dulu, kita begitu dekat. Sekarang, kita bahkan tak saling kenal. Logiskah jika kamu yang pernah menjadi sosok spesial dalam hidupku secara singkat bisa menyita perhatianku hingga sejauh ini?

Satu hal yang masih kupercaya, bahwa Tuhan akan mempertemukanku kembali denganmu jika memang dirimulah laki-laki yang telah dipersiapkanNya untukku, jika memang aku lah tulang rusukmu. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa aku petik dari rasa sakit ini. Aku berjanji akan menjadi perempuan yang tangguh dan kuat, yang mampu berdiri tegak diatas kakiku sendiri, yang tidak lagi mengandalkanmu sebagai sandaranku. Aku berjanji akan melanjutkan hidupku dengan lebih baik lagi. Aku berjanji akan tetap tersenyum dan berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangiku. Aku berjanji akan menyimpan semua kenangan yang kita punya jauh di dasar hatiku yang paling dalam. Aku berjanji akan belajar sekuat yang aku bisa untuk melupakanmu, Tuan.

Tuan, maafkan aku jika aku masih mengingatmu, masih ingin bercerita tentangmu, dan masih mengingat yang terjadi sewaktu kita masih bersama. Aku tahu ini semua salah, tapi menurutku bercerita tentangmu bukanlah hal yang salah.

Sekali lagi, selamat 18 Mei, Tuan.

Bersemangatlah di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat yang sedang kautekuni. Sukses terus untukmu.

Berbahagialah selalu untukku, Tuan. Terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena telah datang dalam hidupku.

Tiba-tiba, aku merindukanmu.